Monday, June 13, 2022

PUTIN RUSAK CITRA RUSIA YANG HARUM

 BERBAGAI cercaan dalam sebulan ini banyak dialamatkan ke Rusia, terutama Presiden Vladimir Putin berkenaan dengan invasi mereka di Ukraina. Bagaimana tidak. Negeri penghasil utama gandum dunia, Ukraina, kini telah hancur lebur. Penduduknya yang beruntung masih dapat menyelamatkan nyawanya, kini terpaksa harus mengungsi ke berbagai negara, sementara yang lainnya masih tetap bertahan mempertahankan tanah air dari negara expansionis Rusia.

Keputusan Rusia memilih jalan kekerasan ketimbang diplomasi dalam menyelesaikan perbedaan pandangan politik dengan negara tetangga mereka, sangat disayangkan banyak pihak. Baik oleh sebagian besar anggota negara anggota PBB, Lembaga kemanusiaan internasional bahkan oleh Paus, pemimpin tertinggi gereja Katolik di mana Putin juga sebagai anggotanya.

Sebelumnya, mendengar nama Rusia, terbayang tokoh-tokoh legendaris yang kesohor. Seperti cosmonaut Valentina Tereshkova, wanita pertama yang megarungi ruang angkasa tahun 1963 – menyusul rekan senegaranya, Yuri Gagarin sebagai manusia bumi pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa pada 12 April 1961.

Di bidang olahraga, siapa yang tak kena dengan Boris Spassky sang juara dunia catur,   Anatoly Karpov juara dunia lain yang pernah memenangkan pertandingan lebih dari 1000 kali.

Di dunia pertunjukan ballet – sebagai kebudayaan seni dan sering dianggap sebagai representasi kecantikan, gemulai dan keanggunan, Rusia banyak memunculkan balerina-ballerina yang top dan memiliki banyak pengikut di media sosial. Sebut saja Maria Abashova, Postnova Stanislava, Diana Vishneva, Maria Khoreva, Svetlana Zakharova, Ekaterina Borchenko dan beberapa yng top lainnya.

Dalam hal karang-mengarang yang paling populer tersebutlah Maxim Gorky. Nama ini sesungguhnya adalah nama samaran dari nama sebenarnya Aleksey Maximovich Preshkov. Gorky yang berarti “pahit”, mengingatkan penulis pada teman sasterawan Satyagraha Hoerip yang lebih sering disapa “oyk”oleh teman-temannya sesuai nama pengarang yang tercantum dalam buku-buku novelnya. Hidup pada masa pemerintahan pemimpin otoriter, para pengarang biasanya banyak yang menggunakan nama samaran. Ingatkah kita Ki Panji Kusmin, nama samaran misterius yang menyebabkan Pemimpin Redaksi Harian Nusantara TD.Hafas dibawah ke perngadilan ? Hanya karena tak mau menyebut nama pengarang sebenarnya ?

Maxim Gorky sendiri, pengarang beraliran realisme sosialis banyak menulis soal penderitaan rakyat kecil pada zaman revolusi Bolshevik Rusia, mengeritik para penguasa. Ia ditemukan meninggal dunia secara misterius di tempat pembungan di Capri tahun 1936.

Penulis juga senang membaca novel “A Story about a Real man” dari Boris Polevoy yang mengisahkan seorang penerbang tempur yang kedua kakinya diamputasi tetapi tetap bersemangat dan berusaha dengan berbagai cara agar dapat kembali menerbangkan pesawatnya.

Di Indonesia pun, terutama di Ibuota, hingga kini masih ditemukan karya-karya monumental dari para arsitek Rusia seperti Monumen Nasional (Monas), gedung olahraga  Gelora Bungkarno, Patung Pemuda di Senayan, Patung menusia terbang di Pancoran, Tugu Tani di Cikini.

Belum lagi pada masa-masa ketika Rusia banyak membantu Indonesia dalam upaya pembebasan Irian Barat. Alusista seperti pesawat-pesawat tempur, kapal-kapal selam dan pendidikan serta latihan ketrampilan bertempur para penerbang kita – menyebabkan Indonesia pada tahun 60-an disegani dunia terutama di Asia Tenggara.

Nah, sejarah harum Rusia di kancah dunia ini - yang sebelumnya telah dinodai tragedi pada masa revolusi Bolshevik, kini telah dirusak lebih parah lagi oleh presiden Vladimir Putin. Ia melakukan invasi berdarah terhadap rakyat Ukraina dengan berbagai persenjataan modern mutakhir yang menimbulkan banyak korban jiwa dan melululantakan berbagai kota. ***

 

 

Saturday, June 4, 2022

KALAU INDONESIA DIPERLAKUKAN RUSIA SEPERTI UKRAINA…….

 Kalau Ukraina hingga kini - sudah lebih dari seratus hari tak pernah berhenti berjuang dengan segala pengorbanan melawan invasi Rusia sangatlah dimengerti. Karena yang dipertahankan adalah kemerdekaan, kebebasan, harga diri, hak milik mereka yang sah bahkan hak hidup.

Coba kalau bangsa dan rakyat Indonesia diperlakukan seperti terhadap Ukraina saat ini ! Tentu akan berjuang mati-matian seperti Ukraina. Dan Indonesia telah kenyang dengan pengalaman melawan bekas-bekas pemerintah kolonial seperti kompeni Belanda yang dilanjutkan pemerintahnya sejak abad 18, Jepang, Inggeris bahkan Perancis dibawah pemerintahan Napoleon Bonaparte dengan menggunakan sosok Daendels. Masih ingatkah pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan yang banyak memeras tenaga rakyat itu – yang hanya untuk membendung balatentara Inggeris ?

Taman-taman pahlawan dan tugu-tugu peringatan kisah perjuangan heroik para  pendahulu kita -  dapat kita saksikan di mana-mana. Semua itu bisa terjadi tak lain hanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan seperti apa yang dipertahankan bangsa Ukraina saat ini : kemerdekaan, kebebasan, harga diri, hak milik yang sah bahkan hak hidup !

Maka itu, aneh rasanya kalau kita tidak ikut bersimpati dengan rakyat dan bangsa Ukraina saat ini. Dan sungguh tak bisa dimengerti kalau masih ada saja yang bersimpati kepada Rusia dan malah memuji-muji dan menghasut Vladimir Putin untuk terus menghujani rakyat dan tanah tumpah darah orang Ukraina dengan berbagai bom dan peluru kendali. Adalah tidak adil kalau selama ini hanya negara-negara Barat saja yang sering digembar-gemborkan sebagai negara imperialis, kolonialis dan ekspansionis – tetapi Rusia tidak.

Buat apa mereka ke Surya. Buat apa mereka ke Afganistan untuk kemudian angkat kaki karena tak tahan dengan perlawanan rakyat negeri bertebing-tebing itu. Sejarah terbentuknya Pakta Warsawa juga membuktikan itu. Bagaimana negara-negara tetangga seperti Rumania, Cekoslowakia yang tanpa daya  tiba-tiba malam hari  diserbu ratusan tank dan mobil-mobil labis baja  oleh Angkatan Darat Uni Sovyet.

Cara berperang Rusia yang brutal selama ini juga patut disorot. Menghujani kota besar yang padat penduduk dengan peluru-peluru kendali dan bom-bom penghancur massal yang banyak menimbulkan kehancuran besar dan korban ribuan termasuk anak-anak, perempuan dan orang-orang lanjut usia. Sungguh menyentuh rasa kemanusiaan. Maka sudah sepantasnyalah kalau Rusia kini diproses oleh Pengadilan Hak-hak Azasi manusia Internasional.

Lebih terhormat para tokoh keluarga Pandawa dan Kurawa dalam ceritera Mahabrata yang memilih medan laga padang Kurukshetra ketimbang berperang di pusat kekuasaan di kota Hastinapura. Atau lebih terhormat OPM atau KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Papua yang menantang TNI untuk berlaga di suatu tempat di luar kota untuk menghindari korban sipil dan kerusakan sarana kota. Tapi TNI tidak mau melayani karena menganggap rakyat Papua adalah saudara sendiri dan setiap perbedaan tetap diupayakan melalui jalan damai. Nah, sama dengan keluarga Pandawa dan Kurawa, sesungguhnya rakyat Rusia dan rakyat Ukraina masih bersaudara. Rusia sebagai saudara tua mestinya menopang saudara-saudara mudanya negara-negara ex. Pakta Warsawa. ***

Thursday, June 2, 2022

MEMANFAATKAN MOMENTUM KONFLIK UKRAINA-RUSIA

 Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang didukung Nato mengingatkan kita pada perang dingin antara NATO dan SEATO yang dipimpin Amerika disatu pihak dan Pakta Warsawa dilain pihak yang dipimpin Uni Sovyet. Tokoh yang menonjol saat itu Presiden Amerika Serikat John F.Kennedy dan Presiden Uni Sovyet Nikita Kruschev. Diluar kedua blok ini tampil pula tokoh-tokoh politik dunia lain seperti Mao Tse Tung, Presiden RRT, Kim IL Sung, Presiden Korea Utara, Norodom Sihanouk dari Kamboja dan tentu saja Ir. Sukarno Presiden Republik Indonesia.

Diantara tokoh-tokoh dunia di luar dua blok ini faktanya Presiden Sukarno nampaknya tampil lebih menonjol. Meskipun ia seorang insinyur sipil keluaran Sekolah Teknik Tinggi (ITB Bandung sekarang), namun sejak mudanya ia lebih banyak berkiprah di kancah politik. Baik politik dalam negeri terutama internasional.

Masalah Irian Barat yang belum-belum juga diserahkan pemerintah kolonial Belanda, dimainkannya untuk menggalang dukungan negara-negara berkembang di bawah panji anti imperalisme dan anti kolonialisme. Ia tahu jiwa dan semangat negara-negara berkembang saat itu – yang masih terjajah atau setengah terjajah - dan mempunyai keinginan yang luar biasa untuk merdeka dari tekanan dan penghisapan ekonomi dari negara-negara kapitalis. Bersama dengan beberapa tokoh, seperti PM.India Neru, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Kwame Nkrumah dari Ghana, Presiden Josef Broz Tito dari Yugoslavia ia mendirikan Gerakan Non-Blok (Non Aligned Movement). Tujuannya untuk berusaha menengahi dann  melerai kedua blok aliansi militer berseteru ini. Untuk mewujudkan gagasan itu  mereka melakukan empat kali pertemuan. Dua diantaranya di Indonesia, yaitu sekali di Bogor yang terkenal dengan Konferensi Pancanegara dan kemudian di Bandung yang terkenal dengan Konferensi Asia Afrika (KAA).

Tapi Sukarno nampaknya belum puas hanya sebagai pemimpin negara-negara Non Blok . Ia melangkah lebih lanjut dengan menyusun kekuatan melalui pembentukan The New Emerging Forces (NEFOS). Tujuannya sebagai kekuatan dunia ketiga untuk menghadapi negara-negara neo kolonoalisme Barat yang nampak seperti tetap mau berlama-lama menduduki tanah jajahan mereka. Maka Ia menggaet tokoh-tokoh politik Asia berpengaruh. Terkenallah apa yang disebut poros kekuatan baru : Jakarta – Pnomphen – Pyongyang- Hanoi – Peking.

Meski menjaga jarak dengan kedua blok militer Pakta NATO dan Pakta Warsawa yang berseteru, namun Presiden Sukarno cukup cerdik memainkan prinsip “bebas aktif” seperti diamanatkan UUD 1945 sebagai dasar politik luar negeri RI. Ia tetap berbaik dengan Presiden John F. Kennedy dan dengan saat yang sama berbaik dengan Nikita Krushchev. Ketika berkunjung ke Amerika, dengan pintarnya Presiden Sukarno mengambil hati rakyat dan para pemimpin AS. Dengan menggandeng putra sulunghnya Guntur Sukarnoputra yang masih bocah, melalui para wartawan di bandar udara ia berujar, “Ketika  menginjakkan kaki disini, saya langsung merasakan suatu negara demokrasi yang damai”. Namun di depan Kongres Amerika ia tetap tegas dengan sikapnya yang anti koloniaisme. Sambil menunjuk Jendral Nasution disampingnya, ia berkata : “Ini Jendral Nasution, tentara profesional. Dia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan !”

Dengan Nikita Krushchev ? Presiden Uni Sovyet yang juga pemimpin tertinggi Pakta Warsawa ini diundang ke Jakarta. Sebuah film berjudul “Kunjungan Sahabat” diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Spanduk dengan gambar besar-besar sang tokoh dipajang di mana-mana.

Hasilnya ? Segera sesudah itu bantuan persenjataan – yang sangat dibutuhkan menghadapi militer kolonial Belanda di Irian Barat saat itu – terus mengalir. Puluhan kapal selam, pesawat-pesawat tempur Mig, Iliyusin segera berdatangan. Putra-putri penerbang Indonesia dikirim dan dilatih menerbangkan pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal selam modern itu. Saat itu beberapa penerbang Indonesia diantaranya Leo Watimena dan Rusmin Nuryadin sangat populer oleh kelincahannya mendemonstrasikan pesawatnya. Maka tak heran kalau Angkatan Perang Indonesia kala itu cukup disegani dan dianggap terunggul di Asia Tenggara. Dan akhirnya pada 1 Mei 1963 Belanda terpaksa juga mau melepaskan kedaulatan atas Irian Barat ke Indonesia. Tetapi untuk tak kehilangan muka dilakukanlah melalui PBB.

Berkaca dari kepiawaian Ir.Sukarno ini, di tengah-tengah kemelut perang Rusia-Ukraina saat ini – mungkin Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi bisa kembali tampil berperan sebagai pemimpin dunia. Apalagi Indonesia kini menjadi Presiden G-20, organisasi yang mencakup negara-negara besar dunia. Bulan Nopember 2022 akan datang Indonesia mengundang pemimpin-pemimpin negara G-20 ini di Bali – termasuk kedua negara yang tengah berperang.

Keputusan Indonesia ini memang sudah sesuai dengan politik luar negeri “bebas aktif”. Bila perlu organisasi negara-negara Gerakan Non Blok (GNB) disemangati lagi untuk berperan. Antara lain dengan mengundang Ukraina menjadi anggota GNB bahkan diberi peran dalam kepemimpinan. Dengan demikian, negara-negara GNB dapat menjadi salah satu organisasi penjamin keamanan dan kenetralan Ukraina. Sekaligus untuk menghilangkan ketakutan Rusia dijadikannya Ukraina menjadi pangkalan  NATO bila negeri itu bergabung ke aliansi itu. Bukankah ini yang menjadi dalih Rusia menginvasi Ukraina saat ini ? ***

 

Wednesday, June 1, 2022

BILA PUTIN MEMECUT PERANG NUKLIR

 Gempuran membabi buta Rusia terhadap negeri dan rakyat Ukraina yang dimulai 24 Febrari 2022 lalu belum juga berakhir. Sudah tak terbilang lagi berapa korban jiwa yang jatuh. Baik personil militer dari kedua pihak, maupun dari kalangan sipil yang tak mengerti apa-apa soal politik. Anak-anak, perempuan, orang lanjut usia dan orang-orang sakit. Tak usah diceriterakan lagi kerugian materi berupa sarana sosial seperti rumahsakir, sekolah, gedung ibadah, pasar, apartemen, jembatan dan banyak lagi. Sehingga boleh dikatakan, perang ini bukan lagi perang biasa, melainkan sudah perang terhadap kemanusiaan.

Bayangkan, peluru-peluru kendali dengan daya ledak tinggi, oleh tangan-tangan dingin dengan perintah orang-orang tak berotak seperti robot besi begitu tega-teganya dilepaskan begitu saja ke tengah-tengah kerumunan manusia. Dan ini terjadi di abad modern ini. Sungguh biadab. Maka sangat tepatlah penegasan Presiden Jokowi dalam pertemuan tingkat tinggi AS-ASEAN di Amerika belum lama ini - agar Rusia segera menghentikan perang ini.

Tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin tak juga bergeming. Bahkan himbauan Paus Fransiskus pimpinan tertinggi gereja Katolik – agama yang juga dianut Putin, tak juga didengar. Maka penulis sependapat bahwa Putin perlu segera dilengserkan dari kepemimpinan Rusia di Kremlin. Apalagi, sesungguhnya banyak pemimpin Rusia, para perwira tinggi, pasukan khusus dan rakyat Rusia menentang perang brutal ini. Berapa banyak perwira tingginya yang masih berpikiran jernih dipecat. Berapa banyak para pendemo yang dijebloskan dalam penjara. Maka sekali lagi, orang ini harus segera dihentikan. Terlebih ketika Putin kini dikabarkan menderita berbagai penyakit kronis. Baik fisik maupun menyangkut kejiwaan. Dia sewaktu-waktu bisa memencet lampu hijau penembakan rudal berhulu ledak nuklir. Dan bila ini terjadi, seperti diingatkan pihak Nato, dalam detik kedua setelah Rusia dideteksi menembakan rudal nuklir – entah ke London atau Washington atau ke kota-kota lainnya, Nato pun secera serempak akan meluncurkan senjata-senjata nuklir mereka dari segala penjuru kearah  Moskwa dan kota-kota besar Rusia lainnya.

Kita tahu Amerika memiliki Armada ke 6 dan Samudra Atlantik dan Armada KE 7 di Samutra Pacifik yang memiliki kapal-kapal induk dan kapal-kapal selam yang mungkin sudah dilengkapi dengan senjata nuklir. Belum lagi dari pangkalan mereka yang ada di mana-mana seperti Jepang, Korea, Timur Tengah dan lain-lain. Belum lagi dari negara-negara anggota Nato lainnya yang sudah memiliki senjata nuklir seperti Perancis, Inggeris, Belanda,Italia, Jerman dan Turki.

Pada saat yang sama bisa jadi, Cina dan negara-negara yang tak menandatangani NPT (Non Proliferation of Nuclear Weapons) seperti India, Pakistan dan Korea Utara dan Israel yang diduga telah memiliki juga senjata nuklir – akan tergoda dan ikut bermain. Dan bila ini terjadi, maka daratan bumi ini mungkin akan tinggal seperti daratan bulan yang gersang ! Jadi, nubuat dalam Alkitab bahwa bumi ini tak akan lagi dibinasaan dengan air bah tetapi dengan api (nuklir) tergenapi sudah. Tetapi bukan oleh Tuhan pencipta bumi ini – melainkan oleh manusia sendiri.

Kunci penentunya kini terletak pada Putin. Dia mesti disingkirkan. Caranya, sebaiknya  biarlah para pemimpin dan rakyat Rusia sendiri. Untuk keselamatan mereka sendiri serta jutaan manusia bumi lainnya. Putin bisa bersembunyi dan menyelamatkan diri sendiri di pesawat yang konon anti radiasi nuklir. Tapi selanjutnya akan mendarat di mana ? Atau akan terbang sepanjang masa ? Tapi, bila AS terpancing oleh ancaman terus-menerus dari Rusia yang akan  melebarkan perang sekarang menjadi Perang Dunia III atau mau menggunakan senjata nuklir, bisa saja Nato malah mendahului daripada didahului. Seperti pada perang Dunia II. Tahu-tahu, bom atom AS sudah melumatkan kota Hiroshima dan Nagasaki.***

 

Sunday, March 27, 2022

KAPAN PEMBANTAIAN RAKYAT UKRAINA BERHENTI !!

 Sudah sebulan ini penulis berkali-kali membuka Youtube berharap perang sadis Rusia terhadap rakyat Ukraina berhenti melalui perdamaian. Tetapi yang kita dapatkan tetap saja tayangan mengerikan berupa peluncuran roket-roket raksasa yang meghujam kota-kota besar di Ukraina – di mana masih banyak warga sipil terjebak di dalamnya. Berlindung di lubang-lubang bawah tanah dengan kekurangan persediaan makanan, airminum, pakaian serta obat-obatan.

Flat atau rumah susun yang masih berpenghuni nampak lululantak dihajar rudal, yang ditembakan dari kejauhan. Dari peluncuran roket, tank-tank raksasa, pesawat dan helikopter tempur bahkan dari kapal perang di lepas pantai ! Kata yang punya alat penghancur massal itu, roket-roket dengan hulu ledaknya presisi. Tapi nyatanya banyak yang nyasar. Masih ingatkah kita di Jakarta dulu - ketika Rusia mau mendemonstrasikan pesawat barunya yang katanya canggih ? Nyatanya berakhir menubruk Gunung Salak. Masih beruntung reruntuhannya tak sampai menimpa kami yang ketika itu masih tinggal dekat kaki gunung  penanda kota Bogor itu.

Tak usah dipaparkan berapa jumlah korban selama sebulan ini. Dapat dibayangkan sendiri, baik personil militer kedua pihak, rakyat sipil, wanita, anak-anak, bayi, lanjut usia dan harta benda. Bahkan makam peringatan ribuan orang-orang Yahudi korban keganasan fasis Hitler di negeri itu juga porak-poranda.

Saya bayangkan, kalau satu saja rudal ICBM dijatuhkan di tengah-tengah kota Jakarta. Gimana jadinya ? Di Ukraina bukan cuma satu tapi ratusan. Maka mengherankan juga kalau masih ada tersisa mahluk yang hidup di kota-kota itu. Segala macam senjata mutakhir sampai yang mampu melumerkan tubuh orang ditembakkan. Hanya senjata nuklir saja yang belum diluncurkan. Tapi konon sekarang sudah disiapkan, tinggal tekan knop saja. Dan ngerinya, negara-negara nuklir lainnya kini telah melakukan hal yang sama.

Maka melihat ini, semua orang yang masih mempunyai rasa kemanusiaan harus segera melakukan usaha menghentikan invasi brutal ini. Bagi negara yang masih berfaham komunis seperti Rusia, asasinasi seperti ini mungkin hal biasa saja. Apalagi tokoh kuncinya Presiden Putin adalah mantan perwira KGB, organisasi intelijen militer yang terkenal sadis.

Teringat ucapan seorang tokoh Kremlin yang berujar, ”kalau untuk mewujudkan masyarakat komunis yang tulen, saya tak gentar berjalan di atas jutaan mayat manusia.”

Pada sidang-sidang Mahmillub (Mahkamah Militer Luar Biasa) sesudah peristiwa G.30.S/PKI tahun 1965, masih terngiang kudengar dialog antara Oditur Militer LetKol.Durmawel Ahmad, SH dan Ketua Mahkamah Kol.Hendotomo dengan terdakwa, salah seorang tokoh PKI yang terlibat dalam usaha koup itu -  tentang pandangan komunisme mengenai manusia. Dikatakan, “manusia itu tak lebih dari sepotong daging”.

Maka tak heran, kalau sekarang bisa terjadi seperti yang di Ukraina ini. Hal sama sudah terjadi di Tienanmin Tiongkok, terjadi di Madiun dan Lubang Buaya. Maka penulis heran, kalau masih ada saja di Indonesia yang setuju bahkan memuji-muji invasi Rusia ke Ukraina.

Yang juga mengherankan, Putin ini rupanya formalnya seorang Kristiani. Acara pembabtisannya dilakukan di sebuah gereja di St.Pettesburg (dulu Leningrad) dan  ditayangkan di televisi. Di mana pemahamannya tentang hukum pertama dan terutama kedua untuk mengasihi sesama manusia seperti yang diperintahkan Injil ? Menurut data di Google, ayahandanya memang seorang atheis, tetapi ibunya seorang Kristiani.

Tapi tak kurang-kurang, Paus dari Roma sendiri sampai memohon-mohon kepada Putin untuk menghetikan perang ini dan kembali menyelesaikan segala sesuatunya secara damai melalui perundingan. Demikian juga PBB dan negara-negara cinta damai lainnya, termasuk Indonesia. Namun, tetap saja Putin tak bergeming. Rudal-rudal, bom kecil besarnya tetap saja dihujamkan ke negeri tetangganya itu – dan menjadikannya seperti lapangan tembak uji-coba senjata pemusnah baru.

Maka penulis setuju sekali dengan sikap Pemerintah Indonesia yang ikut mengecam “operasi militer khusus” itu meski sebagai bayarannya oleh Rusia kita dimasukkannya dalam kelompok “negara tidak bersahabat”. Tak apa-apa. Dulu Uni Sovyet kita anggap sebagai negara sahabat. Banyak membantu dalam perjuangan Indonesia melawan kaum kolonial-imperalis. Hal itu ditandai dengan film “Kunjungan Sahabat”, yang awal tahun 60-an pernah diedarkan secara luas ketika Presiden Kruschev berkunjung ke Indonesia. Fotonya yang besar-besar dipajang di mana-mana. Tapi ini dulu. Politik luar-negeri kita sesuai UUD 1945 adalah bebas aktif. Meski kepada negara sahabat, kalau salah tetap kita katakan salah.

Menjelang KTT G-20 di Bali Nopember mendatang,  Indonesia sebagai Presiden G-20 diharapkan kembali bisa tampil berperan sebagai pemimpin dunia seperti Bung Karno. Pemrakarsa KTT Non Blok, Konferensi Asia Afrika, OKI, Asean, NEFOS.

Teringat juga peran kepala suku kami dulu yang juga kakek penulis. Meski suku kami terbilang kecil, tetapi melalui diplomasinya, beliau mampu mendamaikan dua kerajaan  besar yang selalu berseteru. Yakni Raja Bugis di perbatasan Sulawesi Selatan dengan Raja Marunduh, dari Kerajaan Mori yang wilayahnya kini meliputi Kabupaten Morowali Utara, tempat pabrik Nikel kebanggan Indonesia yang mendunia.***

 

Friday, March 18, 2022

MINYAK GORENG, OH..MINYAK GORENG !

 Dalam langkanya minyak goreng sekarang, pertama-tama penulis menganggap pemerintahan kita sekarang pemerintahan saudagar. Coba cermati.  Mayoritas para pejabat baik  di eksekutif maupun di legislatif rata-rata adalah pengusaha atau mantan pengusaha. Kalau meminjam istilahnya mantan wakil Presiden Jusuf Kalla, saudagar. Yang lain mengistilahkan kapitalis.

Maka tak heran, kebijakan-kebijakan perekonomian kita sekarang dominan disetir para saudagar ini, yang memegang posisi penting di jabatan-jabatan publik. Kalau posisi-posisi itu dipegang oleh saudagar “anasionalis”, istilah yang pernah ditolak pengusaha Jusuf Wanandi (Liem Bian Kun) dahulu, maka rusaklah perekonomian negeri ini. Dan inilah yang terjadi sekarang. Jangankan ekonomi, hukum pun seperti diucapkan secara lugas oleh Menko Polhukam Mahfud MD, sekarang sudah dijadikan obyek komersil. Di legislatif ada jual-beli pasal. Di urusan tuntut menuntut perkara di pengadilan, ada tawar-menawar pasal.

Maka tak heran kalau di bidang distribusi bahan kebutuhan pokok selama ini selalu ada ketidakberesan. Seperti kelangkaan-kelangkaan pasokan kebutuhan pokok. Kacang kedelelah, telur ayamlah, sampai cabe, gas, daging dan sekarang minyak goreng. Sampai-sampai ada ibu yang meninggal di antrian. Ibu-ibu lain yang kecapean mengantri dengan sandal-sandal mereka.

Padahal, permukaan bumi negeri ini termasuk kampung halaman penulis, hutan-hutannya nyaris habis dicukur untuk menanaman kelapa sawit. Kebakaran hutan untuk penanaman kelapa sawit dari tahun ke tahun merepotkan warga asli sekitar. Bahkan juga banyak protes negara tetangga. Dan, aneh rakyat-rakyat kecil ini sulit mendapatkan minyak goreng !

Menjadi tanda tanya : apakah kelangkaan ini disebabkan kebijakan para pejabat saudagar anasionalis ini yang lebih banyak mengekspor untuk lebih menguntungkan konco-konco saudagarnya karena harga di luar negeri lebih tinggi ? Lalu mengabaikan pasokan dalam negeri sehingga merugikan rakyat kecil ? Atau barangkali memang para pejabatnya yang bermasalah. Entah menteri atau jajarannya yang tak mampu bekerja. Mengatur tata distribusi, tak mampu mengawasi. Atau barangkali memang ikut kongkalingkong dengan para penimbun ? Kalau ini terjadi, mengapa mereka tidak diganti ?

Agaknya, sistim perekonomian kita sekarang benar-benar harus banting stir. Dikembalikan lagi secara nyata ke pasal 33 UUD 1945 dengan memberi peluang dominan kepada koperasi. Koperasi, terutama koperasi konsumsi,  benar-benar harus diberi peluang berperan. Terutama bidang distribusi kebutuhan pokok utama rakyat. Bisakah untuk bahan-bahan kebutuhan pokok tertentu hak pendistribusiannya diserahkan hanya kepada koperasi ? Bisakah setiap keluarga diwajibkan menjadi anggota koperasi untuk bisa mendapatkan bahan pokok tersebut ? Dengan demikian, pendistribusian bahan kebutuhan pokok esensial  oleh koperasi sendiri. Apabila pasokan kurang, mereka akan berteriak kepada pengurus koperasi mereka sendiri dan anggota dapat ikut mengawasi pekerjaan pengurus.

Dituduh pemerintah terlalu banyak ikut campur ? Boleh saja, tetapi bukankah konstitusi menegaskan bahwa cabang-cabang produksi dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara ?

Dulu badan-badan pelayanan masyarakat seperti kereta-api, pos, penerangan, rumahsakit berbentuk Jawatan yang semata-mata hanya melayani masyarakat tanpa motif mencari untung. Sekarang semua jadi PT yang bertujuan mencari untung. Bahkan rumahsakit, perguruan tinggi sudah mirip-mirip PT.

Tak melaksanakan pasal 33 UUD 1945 in, berarti  kita, atau setidaknya para pejabat pemegang kebijakan utama, baik di eksekutif maupun legislatif  tidak konsisten. Tidak mengikuti maksud para pendiri negeri ini dan menyeleweng ke arah ekonomi kapitalis-liberal. Kalau tak dilaksanakan, berarti kita menjadi bangsa munafik. Sering membangga-banggakan gagasan sistem ekonomi gotong-royong  koperasi , tetapi dalam praktek tak nyata. Kalaupun ada, kondisi koperasi-koperasi ini lebih mirip-mirip lembaga sosial yang mati tapi dihidup-hidupkan.

Sekarang memang sulit diputar kembali karena perekonomian negeri ini telah telanjur dikuasai kaum kapitalis-liberal berkolaborasi dengan kaum politisi anasional yang duduk di lembaga-lembaga negara. Dibutuhkan tindakan berani dan drastis alias revolusioner. Tetapi kalaupun sulit, bisa dimulai secara bertahap.. ***

Thursday, March 17, 2022

PERPANJANGAN MASA JABATAN PRESIDEN, PERLUKAH ?

     Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan mengenai perpanjangan masa bakti Presiden.  Cara yang disebut-sebut, pertama melalui penundaan pemilihan umum dan kedua melalui amandemen Undang-Undang Dasar ( Konstituasi).

Kalau ditela’ah, masalah perubahan mas a bakti Presiden diatur dalam pasal 7 UUD 1945 hasil amendemen terakhir. Pasal itu menyatakan, Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

Sedangkan mengenai tujuan pemilihan umum menurut pasal 22 E UUD 1945 ini, hanyalah untuk memilih anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden dan DPRD. Tak ada sama sekali menyinggung soal masa bakti lembaga-lembaga negara.

Dengan demikian pendapat untuk memperpanjang masa bakti presiden melalui penundaan Pemilu, menurut penulis, hanya akal-akalan. Tidak konstitusional. Yang masuk akal dan konstitusional adalah dengan mengubah ketentuan masa jabatan pada pasal 7 UUD 1945 tersebut. Dari memungkinkan dua kali masa jabatan menjadi lebih dari dua kali masa jabatan melalui amandemen. Misalnya menjadi tiga kali masa jabatan.

Sesuai pasal 3 UUD 1945 hasil amandemen terakhir, yang berwenang melakukan perubahan dan menetapkan Undang-undang Dasar adalah MPR. Pasal 2 menyatakan, MPR terdiri dari anggota-anggota DPR dan DPD yang dipilih melalui pemilihan umum. Bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di Ibukota Negara – dan segala keputusannya ditetapkan dengan suara terbanyak.

Namun proses usulan perubahan dimaksud tidaklah mudah. Urusannya berliku-liku dan membutuhkan waktu yang tak sedikit. Pertama, perlu mencermati kembali pasal-pasal UU No.17 Tahun 2014 tentang MPR,DPR dan DPRD yang menjabarkan lebih rinci operasionalisasi lembaga-lembaga negara tesebut. Pimpinan MPR harus menyusun rencana, lalu pelakasanaannya dibantu oleh sebuah Panitia ad hoc. Panitia ad hoc menyiapkan bahan-bahan persidangan dan menyusun rancangan putusan MPR.

Yang mungkin dapat membuat persidangan berkepanjangan atau bertele-tele adalah berkembang dan melebarnya usulan materi perubahan. Bukan saja terbatas pada perubahan masa jabatan Presiden, tetapi juga dapat bertambah dengan usulan-usulan menyangkut berbagai hal yang lagi aktual saat ini. Karena pimpinan MPR tak dapat membatasi hak bersuara setiap anggota.

Maka untuk menempuh proses ini, mesti dipertimbangkan saat akhir masa jabatan Presiden sekarang ini. Jangan sampai sidang MPR belum mencapai keputusan, masa jabatan Presiden sudah berakhir – yang berarti akan ada kevacuman pimpinan pemerintahan. Kecuali kalau MPR sepakat untuk menetapkan keputusan tersendiri. Dan jangan lupa, sidang MPR harus dilaksanakan di Ibukota negara. Sedangkan Ibukota baru RI (IKN) di Kalimantan kini baru mau mulai dibangun, meskipun secara formal sudah dikukuhkan dengan undang-undang.

Bagi penulis, diperpanjangnya atau tidak masa bakti Presiden tidak masalah – asalkan konstitusional. Tidak sependapat dengan adanya pendapat yang mengatakan, kalau Presiden sekarang setuju diperpanjang masa jabatannya sebagai pengkhianatan. Presiden/Wakil Presiden dalam sumpa/janji mereka – mereka tak menyatakan akan menjabat selama lima atau sepuluh tahun. Sumpah mereka adalah akan taat pada konstitusi. Kalau konstitusi baru mengamanatkan tiga kali masa jabatan, ya tiga kali masa jabatan. Bukan taat pada konstitusi lama yang tak berlaku lagi.

          Yang penting adalah urgensi dari perubahan konstitusi tersebut. Kalau memang dianggap sangat urgen, maka tak salah kalau konstitusi diubah. Ukurannya adalah kepentingan rakyat dan bangsa. Rakyat lebih utama dari konstitusi. Rakyat bukan untuk konstitusi, tapi konstitusi untuk rakyat. Jangan dibalik.

Jadi, kalau memang kepeminpinan Jokowi masih benar-benar dibutuhkan untuk kepentingan rakyat dan bangsa ke depan - maka biarlah rakyat yang menentukan. Memang kepemimpinan Jokowi hingga saat ini dianggap relatif tetap bagus. Dan masih banyak program-programnya yang perlu dituntaskan, semisal IKN. Dan bila diganti dalam waktu dekat, maka tak ada jaminan apakah semua program itu akan dituntaskan. Dan apakah kepemimpinannya akan sebaik atau lebih baik dari  Presiden Jokowi.***


Thursday, March 3, 2022

Apa yang dicari Rusia : RAKYAT UKRAINA DIBOMBANDIR RUDAL

Setiap mengikuti jalannya pertempuran hebat antara Ukraina dan militer Rusia yang kini sudah berlangsung seminggu , penulis selalu teringat dan membayangkan peristiwa heroik perlawanan rakyat  Surabaya tanggal 10 Nopember 1945. Ketika itu pasukan sekutu memborbardir kota Surabaya dari laut dan udara. Dengan persenjataan bambu runcing dan senjata seadanya hasil rampasan dari  balatentara Jepang yang sudah menyerah, mereka melakukan perlawanan. Tak terhitung jumlah korban yang jatuh.

Sekarang, Rusia tak segan-segan menghujani kota-kota Ukraina dengan berbagai rudal canggih jarak jauh. Menghujam bukan saja obyek-obyek dan markas-markas militer, tetapi juga pemukiman rakyat sipil seperti rumah susun, perkantoran, pembangkit listrik dan sarana umum lainnya. Tetapi dalam situasi persenjataan tak seimbang dengan pihak agresor, dan itupun sudah banyak dihancurkan, militer Ukraina di bawah Presidennya Zelensky bersama rakyatnya, nampaknya tetap maju tak gentar melakukan perlawanan. Berbeda ketika 20 Agustus 1968 Uni Sovyet menyerbu Cekoslowakia. Ketika itu Rusia yang memimpin Pakta Warsawa memasuki Praha ibukota Cekoslowakia dengan ratusan pasukan mobil lapis baja didukung antara 175 – 500 ribu personil militer.

Perdana Menteri Alexander Dubcek dan Presiden Ludwig Svoboda memerintahkan militernya tak mengadakan perlawanan karena percuma dan hanya akan menimbulkan banyak korban. Alexander Dubcek yang juga saat itu merangkap  Sekretaris Jendral Partai Komunis di negaranya sedang mengkampanyekan reformasi ekonomi dan sosial yang  dikenal dengan “Musim Semi Praha”. Ia kampanyekan sistem ekonomi pasar untuk menggantikan ekonomi terpusat dan melonggarkan kebebasan pers. Ia mendapat dukungan rakyat tetapi pemerintah Kremlin tak menyetujui.

Meski pemerintah dan militer Cekoslowakia tak mengadakan perlawanan, tetapi rakyat  tidak setuju dan melancarkan demonstrasi besar-besaran. Mereka ditindas dengan keras sehingga menimbulkan korban 208 tewas dan 500 lainnya terluka.

Ada persamaan dan perbedaan dengan ketika Rusia menyerbu Ukraina sekarang. Persamaannya, kalau dulu Uni Sovyet  menunjukkan keangkuhan kepada negara-negara kecil yang akan dicaploknya dengan keunggulan tank-tank bajanya. Sekarang mau menakut-nakuti dengan rudal-rudal balistik dan senjata nuklirnya. Kalau dulu Uni Sovyet menyerbu Cekoslowakia dengan dalih mau menolong elemen-elemen pro Rusia di negeri itu, sekarang dengan dalih mau menolong kaum separatis  di dua wilayah Ukraina sesudah Rusia terlebih dahulu mengakui keduanya  sebagai negara merdeka. Persamaannya yang lain adalah dua-duanya karena timbulnya rasa takut Rusia akan pengaruh NATO. Dulu, pakta pertahanan negara-negara Atlantik utara ini merupakan saingan Pakta Warsawa selama perang dingin. Sekarang, Rusia takut  dengan keinginan Ukraina untuk menjadi anggota NATO. Khawatir kalau NATO membangun pangkalan peluru kendali dan nuklir disitu yang dapat mengancam langsung wilayah Rusia. Padahal negara-negara Nato yang dipimpin Amerika Serikat itu  belum memenuhi keinginan Ukraina itu. Moskow sendiri menginginkan Ukraina tetap menjadi negara netral atau pro Rusia.

Sedangkan perbedaan penyerbuan Rusia dahulu dengan yang sekarang, adalah reaksi dari pemerintah, militer dan rakyat Ukraina serta negara-negara simpatisan. Semuanya kompak melakukan perlawanan. Putin, Presiden Rusia mengira akan dapat menundukan Ukraina dalam perang kilatnya selama empat hari. Ternyata gagal total. Pemerintah, militer dan rakyat Ukraina tidak lagi takut digertak. Mungkin ia lupa kalau rakyat Ukraina selama ini sudah mengalami enaknya hidup sebagai negara demokrasi dan kadung dengan kebebasan. Dan pemimpin mereka yang sekarang, Presiden Volodymyr Zelensky, seorang bekas komedian yang sangat populer dan disenangi rakyat. Terbukti pada pemilu lalu ia keluar sebagai pemenang, mengalahkan petahana sebelumnya yang pro Mokwa.

Begitu kuatnya dukungan rakyat kepada pemimpin pilihan mereka yang dipilih secara demokratis itu, segenap rakyat dengan bersemangat menyambut setiap seruan Presiden Zelensky agar bersatu mempertahanankan negeri. Setiap orang yang mau berperang dilatih menembak dan dibagi-bagi senjata dengan cukup hanya memperlihatkan KTP. Para perempuan ramai-ramai merakit bom molotov dan mempersiapkan makanan dan minuman buat ribuan prajurit dadakan itu. Seorang miss dunia, berpose dengan menyandang senjata otomatis. Demikian pula para atlit terkenal dan profesional ramai-ramai mendaftar, menerima senjata dan berlatih menembak.

. Saat iring-iringan tank penyerbu memasasuki jalan-jalan kota, mereka akan menghujaninya dengan bom-bom molotov bensin dan tembakan. Rudal-rudal panggul akan menghantam setiap pesawat atau helikopter yang melintas. Ini sudah terjadi sehingga sejumlah tank hangus dilalap api dan lainnya ditinggalkan penghuninya guna  menyelematkan diri. Di suatu tayangan televisi, seorang perempuan nampak mendemonstrasikan kebolehannya mengemudikan tank Rusia yang telah ditinggalkan.

Maka tidaklah heran, jika laju tentara merah yang bersenjata serba canggih itu tertahan, bahkan ada yang berhasil dipukul mundur. Sementara itu beberapa negara yang bersimpati, secara terbuka atau diam-diam telah memasok senjata-senjata anti tank dan anti pesawat kepada militer dan rakyat Ukraina. Karena itu jalannya perang ini diprediksi akan berjalan lama.

Kalaupun akhirnya pemerintah dan militer Ukraina dapat dikalahkan lalu Rusia membentuk pemerintahan boneka, itupun tak akan berlangsung lama dan sia-sia. Perlawanan rakyat akan terus terjadi. Mereka sudah marah dengan tembakan-tembakan rudal jarak jauh dan brutal menghancurkan kota-kota dan membunuh banyak orang itu. Tekanan-tekanan internasional, baik politik maupun ekonomi, pada akhirnya akan memaksa Rusia harus angkat kaki dari Ukraina dan menempuh jalan damai. Apalagi, terakhir dikabarkan, banyak orang-orang asing seperti dari Inggeris ikut  menjadi relawan, mempersenjatai diri dan mendaftar untuk ikut bertempur bersama pasukan Ukraina. Pemerintah Ukraina mengijinkan lalu mefasilitasi mereka dengan membentuk pasukan Legiun Asing.

Namun Ukraina pun perlu memahami akan kekhawatiran Rusia. Mereka sebaiknya secara sadar dan sukarela menerima status sebagai negara nonblok seperti diharapkan Rusia. Tidak menjadi anggota pakta pertahanan NATO ataupun blok Rusia dengan diikat  perjanjian internasional. Sebagai imbangannya, keutuhan wilayah negaranya harus dijamin. Dan dalam dalam urusan-urusan politik, ekonomi dan masalah non militer lainnya tak boleh diintervensi. Ukraina mesti menyadari bahwa sengketanya dengan Rusia bukan saja berdampak untuk kedua negara tetapi juga akan sangat berpengaruh pada ekonomi global.

Pelajaran apa yang dapat ditarik dari perang Ukraina-Rusia ini ? Persenjataan canggih ternyata tidak selamanya dapat menjamin langgengnya penguasaan atas wilayah lain yang diduduki. Dan kebijakan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta yang mengandalkan kekuatan rakyat seperti yang selama ini dianut Indonesia dan bukan pasa alusista canggih semata , terbukti tetap relevan.***

 



Tuesday, December 14, 2021

Sekali Lagi, IBADAH NATAL dan PERAYAAN NATAL, hal berbeda !

 Hari-hari ini ramai diperbincangkan lagi boleh tidaknya umat Muslim mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Alasannya dulu, karena fatwa MUI mengharamkannya.
Tetapi , mantan Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin yang kini menjabat Wakil Presiden RI pernah menegaskan MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa demikian. Bahkan sebuah video yg sdh menyebar, beliau sendiri sdh mengucapkan Selama Natal.
Yg benar, kata beliau, yg difatwakan MUI adalah larangan umat Muslim mengikuti peribadatan umat Kristiani.

Sebetulnya pemimpin-pemimpin umat Kristiani sdh lama paham akan hal ini.
Makanya pada setiap Hari Natal sering diadakan dua jenis acara. Satu, IBADAH NATAL dan dua, PERAYAAN NATAL.


Yg pertama, susunan acaranya (Liturgi) disusun secara ketat. Pujian, pembacaan Kitab Suci, doa dan sakramen lainnya. Perjamuan Kudus ( makan roti dan minum anggur), misalnya, tidak semua jemaat boleh ikut. Hanya mereka yg telah lulus mengikuti pendidikan Katekisasi dan diteguhkan sebagai warga sidi. Bagaimana mungkin umat lain bisa ikut peribadatan ini ? Jangankan umat Muslim. Antar sesama umat Kristiani saja belum tentu bisa ikut cara perbadatan di gereja yg berbeda denominasinya. Misalnya Katolik ke Protestan dan sebaliknya.


Kedua, PERAYAAN. Acara ini biasanya sesudah Ibadah Natal. Acaranya, tidak seketat liturgi. Lebih bernuansa ucapan syukur, sukacita dan gembira. Boleh menggunakan band serta artis-artis penyanyi kidung Rohani .


Nah pada kesempatan inilah biasanya tamu-tamu dan para sahabat non Kristiani didaulat ikut. Intinya tidak ada tata ibadah yg harus diikuti. Tapi, dalam berbagai komentar bbrp hari ini, nampaknya ada yg tak bisa membedakan kedua acara ini.
Seperti yg ditegaskan Ketua Umum MUI dlm ketika diwawancarai Rosi dari Kompas tv bbrp waktu lalu, yg dilarang adalah mengikuti Ibadah. Hal yg sesungguhnya oleh pihak gereja sendiri dianggap tidak etis, kecuali atas keinginan sendiri dan diijinkan.
Kesimpulannya, sebelum berkomentar, perlu tahu dulu perbedaan ini agar tak dikacaukan.***

KIDUNG PUJIAN ANTAR IMAN

 Akhir-akhir ini di HP kita, sering  dikirimi lagu puji-pujian rohani melalui You Tube. Ibu-ibu atau remaja putri berjilbab menyanyikan kidung rohani Kristen semisal “Kasih pasti lemah lembut” yang dulu dipopulerkan Ade Manuhutu, atau lagu “Hidup Ini adalah kesempatan” yang lagi hit hari-hari ini.

Lantas, ada orang bertanya-tanya, apakah mereka ini telah menjadi murtadin alias berpindah agama dari Islam ke agama Kristen ? Seperti para murtadin mantan uztad atau uztaza yang setelah beralih agama tapi tetap menggunakan pakaian mereka seperti semula memakai peci atau jilbab ?

Bagi penulis,  seseorang yang menyanyikan kidung rohani yang syairnya netral, seperti kedua lagu di atas yang tak menyebutkan secara spesifik nama tuhannya, tidaklah masalah. Biarlah masing-masing pelantunnya mengimajinasikan pujiannya kepada Tuhan yang dipercayanya  masing-masing.

Makanya lagu rohani dari pihak Muslim seperti “Keagungan Tuhan” yang dahulu dipopulerkan Ida Laila, menurut penulis boleh-boleh saja dinyanyian umat beragama lain, dan tidak perlu ada yang keberatan. Toh lagu ini hanya  mengingatkan setiap insan atau umat manusia, apapun agamanya, bahwa dunia ini hanya naungan pemberian Tuhan yang kelak akan binasa dan  karena itu harus selalu berbakti kepada Tuhan Maha Pencipta.

Kalau ini terjadi, maka kelak kita akan dapat menyaksikan adanya suatu komunitas yang dalam kebinekaan bersatu bersama memuji Tuhan dengan penuh sukacita dan kedamaian. Sungguh indah….***

 

 

Contact Form

Name

Email *

Message *