Hari Natal tanggal 25 Desember 2014 dan hari
pertama Tahun Baru 2015 telah berlalu. Namun pohon-pohon terang di rumah-rumah
keluarga umat Kristiani dan gereja-gereja bahkan juga di sejumlah fasilitas
umum, masih dibiarkan berdiri. Paling
tidak sampai satu minggu sesudah tahun baru.
Konon,
Pohon Terang awalnya adalah kreasi dari
Marthen Luther, uskup Katolik Jerman yang kemudian memproklamasikan pembaharuan
melalui Deklarasi protesnya di pintu
gerbang gereja istana Witterberg pada tanggal 31 Oktober 1517 karena keesokan harinya jemaat akan berkumpul disitu dalam pesta keagamaan "Segala orang Kudus".
Ia mengundang para cerdik pandai untuk mendiskusikan ke-95 dalilnya khususnya tentang penolakannya mengenai penghapusan siksa karena dosa yang dapat dibayar dengan amal atau uang. Menurutnya keselamatan hanya terjadi oleh kasih karunia Tuhan semata bukan oleh amal perbuataan manusia. Makanya ia sering dijuluki Bapa Reformasi gereja, dan jemaatnya disebut sebagai Gereja Reformasi atau Gereja Protestan.
Ia mengundang para cerdik pandai untuk mendiskusikan ke-95 dalilnya khususnya tentang penolakannya mengenai penghapusan siksa karena dosa yang dapat dibayar dengan amal atau uang. Menurutnya keselamatan hanya terjadi oleh kasih karunia Tuhan semata bukan oleh amal perbuataan manusia. Makanya ia sering dijuluki Bapa Reformasi gereja, dan jemaatnya disebut sebagai Gereja Reformasi atau Gereja Protestan.
Mengingat
maknanya, maka Pohon Terang ini tahun
50-an dahulu dipakai sebagai lambang partai politik yang beraliran paham
Protestantisme, yaitu Partai Kristen Indonesia (Parkindo).
Bagian
utama dari Pohon Terang, adalah pohon, carang-carangnya, buah dan llilin atau
untaian lampu hias warna-warni dan
berkelap-kelip. Sedang ornamen-ornamen lainnya seperti rumbai-rumbai hiasan adalah tambahan untuk melambangkan
kemuliaan Tuhan seperti diperlihatkan Tuhan kepada para gembala di atas langit padang
Efrata oleh kehadiran rombongan malaikat pemuji yang menyanyikan “Kemuliaan
Bagi Allah di tempat maha tinggi dan Damai Sejahtera di Bumi bagi orang yang berkenan kepadaNya”.
Makna
pohon dan carang-carang adalah mengacu pada ajaran Yesus bahwa diri-Nya adalah
ibarat pohon kehidupan dan para murid
dan pengikutNya sebagai
carang-carangnya. Seiap carang atau cabang tak akan dapat hidup bila
terlepas dari pohonnya.
Setiap
carang harus menghasilkan buah-buah kasih. Carang yang tidak menghasilkan buah
akan dipotong dan dibuang ke dalam api. Sedang lilin atau hiasan lampu
melambangkan terang yang menerangi dunia, karena Yesus, disamping mengajarkan diri-Nya
sebagai pohon Kehidupan, juga sebagai “Terang Dunia” yang membawa kebenaran
untuk kehidupan dunia yang serba rusak ini. Murid-muridnya dan segenap
pengikut-Nya juga harus menjadi “terang dunia” di sekitarnya. Dan “terang” itu
harus diletakan ditempat tinggi yang dapat menerangi sekitarnya. Tidak ditaruh
di bawah gantang.
Sedangkan
asesoris bintang besar yang biasanya dipasang dipuncak Pohon Terang,
melambangkan Bintang Besar yang dilihat
dan diikuti pergerakannya oleh Orang Majus dari sebelah timur sampai berhenti
tepat di atas kota Betlehem Efrata Palestina sekarang.
Jadi
adalah suatu perbuatan kurang etis oleh orang yang kurang paham kalau ada di
suatu tempat ada yang mengganti lambang-lambang buah kasih (perbuatan baik) dengan
sandal-sandal pada pohon terang.
No comments:
Post a Comment