Ketika sedang ribut-ribut soal Cak Budi yang
kabarnya menyalahgunakan sumbangan untuk orang miskin, saya tertarik dengan
organisasi ACT (Aksi Cepat Tanggap). Kenapa ? Karena ini dapat disalahpaami
dengan ACT (Action by Churhes Together), sebuah lembaga sosial gerejani
internasional yang berpusat di Swiss. Lembaga kemanusiaan ini khusus mmbantu
para korban bencana alam dan korban kerusuhan di seluruh dunia termasuk di
Indonesia. Bencana alam Aceh, Nias, Bengkulu, Lebak,
Purworejo,, NTT, Luwuk Banggai, Poso, Sangir Talaud, Ambon dan banyak lagi.
Di Indonesia
ACT Internasional pernah bekerjasama dengan Yayasan Tanggul Bencana (YTB) yang
didirikan dengan dukungan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Dana bantuan
diperoleh dari jemaat-jemaat gereja pendukung di seluruh dunia termasuk di
Indonesia. Penyaluran dan penggunaannya diawasi ketat oleh ACT Swiss.
Pertanggungjawaban penggunaan dana dan penyalurannya harus selalu dilaporkan
secara terbuka kepada donatur, diperiksa Akuntan Publik dan sewaktu-waktu
juga oleh ACT sendiri.
Ketika
penulis menjadi Asdir Keuangan di YTB, saat itu (th.2000an) setiap bantuan
harus segara disalurkan secepat mungkin kepada para korban bencana, jangan
ditahan-tahan, atau dibungakan dulu dsb. Boleh mengambil untuk biaya
operasional sekian persen, tidak lebih dari sepuluh persen. Kerena tidaklah
mungkin karung-karung beras atau bantuan dalam bentuk barang berjalan sendiri
ke lokasi bencana. Perlu alat angkutan dan tenaga pikul.
Kembali soal ACT, sebaiknya organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini berganti
nama lain untuk mencegah hal-hal yang tisak diinginkan. ACT Internasional ini,
yang sudah sejak lama beraktivitas di seluruh dunia, mungkin mengambil nama
mereka terinspirasi dari Kitab Suci Kisah Para Rasul (inggerisnya : Act) .Mungkin mereka sungkan untuk mempermasalahkan nama ini , tetapi sebagai bangsa
yang beretika mestinya kita bijaksana.
ACT juga senantiasa menyediakan dana darurat untuk membantu
para korban yang memerlukan bantuan sangat mendesak, yaitu dana RRF (Rapid
Reaction Fund). - Sam Lapoliwa, mantan Financial Assistan-YTB).
No comments:
Post a Comment