Showing posts with label MORAL. Show all posts
Showing posts with label MORAL. Show all posts

Monday, December 13, 2021

MIRIS, TEMPAT IBADAH DINAJISKAN

Miris memang kalau tempat ibadah, di mana mestinya seorang anak yang dititipkan orangtua untuk mendapatkan pendidikan agama dan moral, justru oleh oknum yang tak bertanggung jawab dijadikan tempat berbuat amoral.      Seperti diberitakan Radar.com 11/12/2021, kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan informal terjadi di Tasikmalaya. Dua oknum guru pesantren yang tak disebut namanya, yang juga pengelola pondok pesantren (ponpes) mencabuli 9 santriwati.

       Kesembilan santri yang tersebut menurut  Ketua KPAID Tasikmalaya Ato Rinanto, mendapat perlakuan tak senonoh dari oknum guru pesantren  yang  berlokasi di wilayah Tasikmalaya Selatan itu. Namun baru  2 orang korban yang sudah dilengkapi dengan bukti kuat dan diproses oleh polisi setempat. Lima orang  telah mendapat pendampingan secara psikis dari KPAID. Diketahui pelakunya pun sebagai salah satu pengurus yayasan pesantren tersebut,” ujar Ato, Minggu (12/12/2021).

       Sebelumnya, diberitakan  telah terjadi kasus pemerkosaan terhadap 12 santri di Bandung yang dilakukan HW (36) pemilik ponpes.   Menurut , bisnis.com/read/20211210/16,salah seorang korban juga diketahui melahirkan dua kali, akibat tindakan keji HW. Hingga HW ditangkap pun masih ada santriwati yang mengandung. Perbuatan HW menimbulkan banyak korban dan dilakukan berkali-kali tanpa mempertimbangkan kondisi korban. Mengutip  keterangan Komisioner KPAI Retno Listyarti Retno, kepada para korban perlu diberi pemulihan psikologi akibat pemerkosaan tersebut.    

     Meskipun ini terjadi di lingkungan pendidikan nonformal Islam, namun lembaga pendidikan agama lainpun perlu waspada. Khususnya pada persekutuan-persekutuan ibadah  pemuda dan remaja malam hari. Baik di lingkungan rumah ibadah ataupun  retret di luar kota. ***

 

Monday, May 21, 2018

Moral Partai Politik Dipertanyakan

Dampak Undang-undang Pemilihan Legislatif yang diciptakan sendiri oleh wakil-wakil Parpol
di DPR, akhirnya membingungkan para petinggi parpol sendiri.Persyarakan yang membatasi hanya
Parpol yang berhasil memperoleh suara 2,5 % yang layak memiliki wakil di DPR menyebabkan
sejumlah partai-partai kecil tersingkir dari lembaga terhormat itu. Demikian juga kerputusan
Mahkamah Konstitusi yang menetapkan prioritas penetapan calon anggota legislatif berdasarkan
suara terbanyak menyebabkan sejumlah elit partai yang sebelumnya didasarkan atas penunjukkan
pimpinan pertai, kini dipaksa berjuang lebih keras. Banyak yang merasa malu karena dalam
pengumpulan suara dikalakan oleh calon-calon pendatang baru, khususnya dari kalangan artis.
Tak kalah merisaukan adalah persyaratan perolehan kursi minimal untuk dapat mengajukan
calon Presiden/Wapres. Hanya satu pertai yang dapat melewati persyaratan itu. Yang lainnya
terpaksa harus berkoalisi dengan partai-partai lain yang senasib. Ironinya justru terdapat
di sini. Khawatir kehilangan peran, posisi dan kedudukan, para politisi partai nampaknya tak
terlalu menghiraukan lagi ideologi partainya. Partai-partai yang semula sangat gigih
menentang kebijakan partai lainnya, kini serta-merta mau menjalin koalisi demi kepentingan
tokoh-tokohnya.
Partai-partai yang selama ini misalnya secara terang-terangan atau samar-samar menentang
pluralisme, sekarang mau berkoalisi dengan penganjur pluralisme. Partai-partai yang dalam
perjuangan politiknya cenderung pada ideologi agama, kini mendekatkan diri untuk berkoalisi
dengan partai-partai nasionalis yang secara teguh mendasarkan diri pada ideologi Pancasila.
Hal serupa juga mulai nampak pada beberapa tokoh yang diunggulkan menjadi calon Presiden.
Yang mengkhawatirkan lagi, adalah munculnya para tokoh yang pada masa lalunya tercatat oleh
sejarah gagal melaksanakan tanggung jawab yang diembannya dalam jabatan publik. Misalnya
dalam mencegah kerusuhan besar di Jakarta dan kota-kota lainnya tahun 1998. Demikian juga
tokoh yang menurut catatan sejarah seringkali membuat blunder dalam keputusan dan tindakannya.
Kalau ketika menjadi pemimpin dalam level yang lebih rendah sudah membuat masalah, bagaimana
kalau memegang pimpinan tertinggi pemerintahan negara ?
Karena itu dalam pemilu calon Presiden/Wapres yang akan datang, para pemilih dapat lebih
arif mencermati calon Presiden/Wapres yang akan dipilihnya. Apakah mempunyai riwayat pengabdian
yang baik, konsisten pada prinsip, didukung oleh partai-partai yang juga konsisten pada azas,
menjunjung etika politik serta akan akan memperjuangankan kesejateraan bagi seluruh rakyat secara adil. Tidak cukup
dengan hanya mendengar janji-janji kampanyenya saja.

Thursday, April 26, 2018

Cuci Otak


Ini tiddak lagi ada hubungannya dengan dr. Terawan yang terancam dipecat dari IDI (ikatan Dokter Inonesia) dan dicabut ijin prakteknya sebagai dokter.
Tapi berkaitan dengan  perikop khotbah di ibadah Minggu di gereja kami minggu lalu. Ibu Penatua mengangkat ceritera dramatis ketika Yesus  yang baru bangkit dari kematian, suatu pagi sesudah sarapan, “mengetes” kembali kesetiaan Simon Petrus.
Sang murid yang boleh dibilang paling senior dari ke-12 rasul. Ketika tengah berlangsung interogasi terhadap Tuhan Yesus oleh Majelis Agama Yahudi, diketahui ia mengangkal tidak kenal Yesus sampai tiga kali.
Padahal ketika Sang Guru memberitahukan kepada murid-muridNya  bahwa beberapa waktu lagi Ia akan ditangkap, dianiaya dan disalibkan mati oleh pemuka-pemuka Yahudi, Petrus dengan sesumbarnya menjawab, hal itu tidak akan terjadi. Dia rela mati untuk membela gurunya.  Saat itu ia justru ditegur Yesus, yang mengingatkan pemikirannya itu berasal dari iblis.
Nah, sehabis sarapan itu seperti dapat dibaca pada Injil Yohanes 21 : 15-19, Yesus bertanya kepada Simon Petrus dengan pertanyaan yang sama sampai tia kali : “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini ?”. Dan setiap sang murid menjawab :    “Benar Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi Engkau”, Yesus menjawab: “Gembalakanlah domba-dombaKu”.
Petrus merasa sedih dan serba salah dalam situasi ini. Pertanyaan yang sama sampai tiga kali. Mungkin ia menyadari kesalahannya yang pernah tekebur tetapi tidak berani membuktikan ucapannya ketika diperhadapkan dengan ancaman yang sesungguhnya.
Namun iman dan ketulusan Petrus meloloskannya dari “test ulang” itu. Ternyata imannya tetap teguh.
Ia kembali dipanggil Yesus “Ikutlah Aku”. Tetapi ada missi yang harus dilakukan : “Gembalakanlah domba-dombaKu”.
Di kekemudian hari, sesuai yang telah dinubuatkan oleh Gurunya, ia memang menjadi  “batu karang” tempat di mana Yesus  membangun JemaatNya.  Paus di Vatican hingga saat ini diyakini sebagai penerus missi Santo Petrus oleh umat Katolik.
Menarik juga untuk mengambil hikmah dari perikop ini dalam menyikapi perilaku para pemimpin kita di negeri ini.
Ketika dilantik atau berkampanye untuk dapat dipilih menjadi calon pemimpin, mereka mengumbar janji ini dan itu yang muluk-muluk. Mereka berjanji kepada rakyat dan berjanji kepada Tuhan pakai sumpah akan melakukan yang terbaik bagi  bangsa ini.
Suatu ketika mungkin mereka ingkar dan tak mampu mewujudkan janjinya. Maka pada saat itu akan dipertanyakan integritasnya. “Sungguhkah mereka mengasihi Ibu Pertiwi atau negeri ini ?” Tiak cukup hanya sekali ditanyakan. Tapi perlu berulang-ulang. Dan setiap kali ada jawaban, yang pasti “Ya, dengan segenap hati” atau yang sejenisnya, setiap kali juga diingatkan kembali tugas panggilan dari Ibu Pertiwi :” Sejahterakanlah anak-anakku, anak Bangsa ini”. *** (Sam Lapoliwa)








Sunday, February 18, 2018

POLITIKUS SUSAH MASUK SURGA, BENARKAH ?



       Yesus atau Isa Almasih pernah  bersabda  bahwa  “lebih mudah seekor unta masuk dalam lubang  jarum daripada  oang kaya masuk surga. Kok ? Jangan   gagal paham  dulu. Karena  Abraham dan   Salomo  (Sulaeman) adalah orang   kaya raya  dan sangat diberkati ..
      Maksudnya  adalah  orang-orang  kaya yang  merasa dengan  kekayaannya   bisa berbuat segalanya,  berbuat  apa  saja,  membuatnya sombong dan hidup hanya  bergantung  pada  kekayaannya.   Fokus hidupya hanya untuk mengumpulkan  kekayaan  sebanyak-banyaknya. Pelit alias kikir tidak perduli dengan  keadaan orang-orang berkekurangan..       
      Tetapi selain orang  kaya yang susah masuk surga, ada lagi  kelompok orang yang agaknya  akan susah  juga masuk surga. Mereka adalah  para politikus .
Mengapa ?  Karena dalam  prakteknya, para  politikus   paling susah dipegang  ucapan atau janjinya. Susah  mematuhi  perintah  Yesus yang berkata, “katakan ‘ya’ di atas yang  ‘ya’ dan ‘tidak’ di atas yang ‘tidak’. Pagi  hari berkata ‘ begini’ siang atau  sore hari bicara ‘begitu’. Makanya ,  sekalipun  ijasah  sekolahku ada embel-embel politiknya, aku  ogah  terjun ke dunia politik.
        Apalagi kalau masuk  organisasi politik seperti  partai  atau lembaga  politik. Setiap  orang harus tunduk pada keputusan   pada   pendapat  suara terbanyak. Yang tidak  setuju  sesuai suara hati nuraninya  terpaksa harus mengekang diri kalau  mau ingin  tetap bergabung. Keyakinan pribadi  harus dipendam.
        Pantas saja tidak banyak rohaniwan  yang mau terjun ke dunia politik. Seperti  menjadi  pengurus Partai politik atau parlemen. Pantas saja dulu paling susah mengajak  warga gereja untuk bersedia menggunakan hak politiknya  dengan  ikut memilih dalam Pemilihan Umum. Alergi dengan politik. Menggunakan hak politik dan berpolitik praktis dikacabalaukan. Bisa dimengerti kalau orang berkata politik itu kotor. Politik itu kejam. Sahabat, kerabat, bisa jadi musuh.
       Namun, sama dengan orang kaya ,  demikian  juga bukan semua politikus susah masuk surga. Tujuan politik jaman  now  adalah  kekuasaan. Kekuasaan  atas penggunaan alat-alat kekuasaan negara, penguasaan sumber-sumber ekonomi serta berbagai fasilitas negara.
      Pada awal mulanya tujuan politik adalah untuk mewujudkan kesejahteraan umum.Tetapi akhir-akhir ini tinggal segelintir pemimpin dan politisi yang tetap konsisten dengan tujuan itu. Kini, terbukti banyak pemburu kekuasaan melalui jalur politik yang  setelah  berhasil, malah menggunakan kekuasaan atau jabatannya untuk  memperkaya diri sendiri atau  kelompoknya. Lebih parah lagi dengan cara-cara yang melanggar hukum. 
    Praktek suap, korupsi,  pemberian izin yang tidak semestinya, manipulasi dan lain sebagainya. Kini hampir setiap hari media massa memberitakan adanya Gubernur/Bupati/Walikota dan politikus  anggota  DPR/DPRD yang tertangkap  oleh KPK karena melakukan korupsi atau suap. Izin pertambangan yang  semestinya tidak layak diberikan karena akan merusak lingkungan, tetap saja diberikan. Akibatnya kerusakan lingkungan di mana-mana.  Karena suap, proyek-proyek bernilai miliyaran rupiah tidak diawasi dengan baik atau dibiarkan saja. Akibatnya ada yang mangkrak atau dalam waktu yang tidak lama sudah rusak karena tidak sesuai dengan besteknya.***

                                                                  

Contact Form

Name

Email *

Message *